Sabtu, 05 Januari 2013

KONSEP KETUHANAN DALAM IMAN KATOLIK



Thomas Robiana Sembiring
(Sebuah catatan dan Bahan Kuliah Agama Katolik)

Bagi umat manusia yang beriman, Tuhan merupakan pusat atau inti dari seluruh imannya.Tuhan adalah Sang Pencipta, Penyelenggara dan Tujuan hidup Manusia. Kendati demikian dalam beberapa pandangan, ada yang melihat realitas tertinggi ini menurut paham monoteistis dan yang lain memandang dari paham politeistis.
Sebelum kita mengenali Tuhan dalam iman dan ajaran kekatolikan, baiklah kita memahami paham tersebut diatas untuk melihat bagaimana cara pandang manusia terhadap eksistensi Tuhan. Hal ini perlu diketahui agar kita dapat semakin menyadari berbagai perspektif yang ada.

A.    Beberapa  Paham
1.      Monoteisme
Monoteisme berasal dari kata Yunani Monos yang berarti Tunggal, sendirian, satu-satunya, dan tak ada yang lain. Sementara Theos berarti Allah, Tuhan. Berdasarkan paham ini, Allah itu tunggal. Tak ada Allah selain Allah. Allah atau Tuhan itu mengatasi atau transeden atas segala sesuatu yang ada. Ia berbeda dari segala yang ada namun terkait dengan semua yang ada. Oleh karena Dia segala sesuatu menjadi ada, melangsungkan keberadaan mereka dan bergerak menuju tujuan keberadaan mereka.
2.      Politeisme
Politeisme berasal dari kata Polys dan Theos. Polys berarti jamak atau banyak. Theos berarti Allah atau Tuhan. Melalui pemahaman ini Politeisme adalah paham yang mengimani dan memuja banyak Tuhan atau
Dewa. Menurut penelitian mutakhir, paham ini merupakan perkembangan dari paham Monoteistis asli yang dipengaruhi oleh perkembangan budaya. Budaya tersebut terutama adalah cara hidup yang berkembang pada masa itu dari bentuk nomadis menjadi penggembala atau pastoral.

B.     Pengetahuan Tentang Tuhan
Dalam perjalanan sejarah manusia, mereka dapat mencapai pengetahuan tentang Tuhan berdasar pada pewahyuan dan juga berdasarkan pengalaman kehidupan.
1.      Wahyu Tuhan
Wahyu Tuhan dapat ditemukan dalam kitab suci. Diantara para penganut yang mendapat pengetahuan akan Tuhan terdapat pula beberapa pandangan. Beberapa paham yang berkembang antara lain paham fideistis dan tradisionalistis. Kedua paham ini memiliki perbedaan akar pandangan akan wahyu Tuhan.
Fideistis yang berasal dari bahasa Latin Fides berarti iman, kepercayaan. Fideisme berpendapat bahwa pada hakikatnya manusia tidak punya kemampuan untuk mengetahui tentang apapun yang berkaitan dengan Tuhan melalui kekuatan sendiri. Untuk mengenali-Nya hanya Dia sendiri yang harus turun mewahyukan diri pada manusia. Maka satu-satunya sumber pengetahuan akan Tuhan adalah wahyu-Nya. Untuk mengetahui Tuhan mereka harus percaya dan mengimani isi kitab suci. INilah cirri kaum fideis yang menekankan penghormatan pada kitab suci. Kelemahan paham ini terdapat dari cara pandang yang menyangkal kemampuan manusia mengetahui Allah yang artinya sekalipun Allah mewahyukan diri, keterbatasan manusiawi membuatnya sulit menangkap maksud Allah.
Sementara itu ada paham tradisional yang berasal dari kata Tradere yang berarti menyerahkan, menyanmpaikan, meneruskan, memberikan. Penganut paham ini juga memiliki keyakinan bahwa Tuhan hanya dapat diketahui melalui pewahyuan-Nya. Kendati demikian, penganut paham ini tidak melandaskan keyakinan pada wahyu yang termuat dalam kitab suci. Mereka menaruh keyakinan pada wahyu yang diberikan Tuhan pada manusia awal dan diteruskan secara turun temurun melalui tradisi angkatan ke angkatan berikutnya. Kelemahan dari paham ini adalah kemurnian wahyu yang sulit dipertahankan melalui tradisi lisan.
2.      Pengalaman Hidup
Selain melalui pewahyuan, manusia juga dapat mengetahui dan mengimani Tuhan melalui pengalaman hidup. Lewat pengalaman ini mereka melalui yang namanya pengalaman religious atau keagamaan. Sebuah pengalaman yang membawa mereka pada kepercayaan akan Tuhan.
Pengalaman ini dapat muncul dalam berbagai bentuk namun biasanya berkaitan dengan pengalaman akan kemampuan mengatasi berbagai persoalan hidup yang biasanya sulit diselesaikan oleh batas kemanusiaan. Pengalaman ini misalnya muncul saat manusia mampu mengatasi ketakutannya atau kecemasan berlebih yang mengganggu. Hal ini membantu manusia membangun kesadaran akan ketabahan yang dibaliknya terdapat sesuatu mendasar. Melalui pengalaman ini manusia dapat dihantar pada kesadaran dan pikiran akan Tuhan.
Pengalaman hidup yang ada pada akhirnya mengantar manusia sampai pada kesimpulan akan realitas tertinggi yakni Tuhan. Oleh karena pengalaman ini menghantarkannya pada pengetahuan akan Tuhan, manusia lewat berbagai cara berusaha membuktikan eksistensi Tuhan.

  1. Sisi Lain Tuhan dan Agama di Media
Bila kita melihat dengan jeli, perkembangan media belakangan telah dikembangkan banyak pihak tak hanya untuk membangun relasi sosial belaka.  Media internet dan secara khusus jejaring sosial banyak dipakai untuk media pewartaan agama ataupun menyampaikan dakwah. Tentu sebuah perkembangan yang patut disyukuri sebagai perkembangan peradaban manusia. Kendati demikian kita tetap perlu menyadari bahwa media sekali lagi merupakan sarana di tangan manusia. Sebagai sarana ia tidak bebas kepentingan dan itu artinya media yang menyajikan banyak artikel termasuk soal keagamaan bisa saja menyimpan kepentingan terselubung. Terlebih bila kepentingan tersebut ditujukan sebagai propaganda dan bahkan provokasi atas nilai-nilai keagamaan yang ada.
Sebagai salah satu upaya membangun perdamaian diantara kalangan umat beragama, kita perlu menaruh sikap hormat pada perbedaan dan terlebih lagi berani bersikap jujur terhadap perbedaan tersebut. Artinya bahwa perbedaan dimanapun bertendensi memicu perpecahan bilamana ia tidak disikapi dengan kedewasaan intelektual dan spiritual yang mumpuni. Jembatan dalam membangun sikap hormat terhadap perbedaan adalah dengan mengenali iman dan agama kita dan menghidupinya. Mengenal iman dan agama lain sebagai sebuah pengetahuan agar kita dapat membangun sikap hormat atas perbedaan yang ada. Sikap hormat ini perlu diimbangi dengan kecerdasan spiritual yang mengandaikan kita punya keteguhan dalam iman namun juga berdasarkan iman itu kita menaruh sikap hormat pada sesama kita sekalipun berbeda.
Pada tulisan ini, sebagai sebuah catatan reflektif atas iman kekatolikan saya mengajak anda sekalian untuk menghormati pandangan yang ada. Termasuk soal bagaimana sikap kekatolikan memandang konsep ketuhanannya. Tentu saja tidak semua kita memahami bahwa misteri iman adalah salah satu hal yang membuat perjalanan kemanusiaan kita selalu menjadi lebih hidup. Sebab iman bukanlah  sesuatu yang serta merta dapat dibangun dengan logika. Disinilah perbedaan yang mendasar antara iman dan logika. Iman menyimpan sisi misteri yang direfleksikan secara mendalam lewat pengalaman dan perjumpaan harian kita. Bila kita memandang iman dengan penalaran maka tentu iman tidak lagi menjadi sebuah keyakinan melainkan fakta logis.

  1. Konsep Tuhan dalam Ajaran Katolik
Seperti yang telah diungkapkan dalam pengantar awal, banyak ditemukan pertanyaan di media internet soal ketuhanan dalam katolik. Iman Katolik dituding tidak masuk akal dengan konsep Trinitas dan dengan simplikasi pandangan menyatakan bahwa Tuhan dalam ajaran katolik ada tiga sehingga termasuk dalam golongan agama yang menganut Politheism. Konsep Trinitas dituding sebagai ajaran yang menunjukkan Allah diperanakkan dan memperanakkan. Tetapi tentu kita perlu menghargai ketidakpahaman atas sikap ini sekalipun menyesalkan propaganda yang kadang menyesatkan.
Menurut Katekismus Gereja Katolik, Konsep Trinitas diuraikan sebagai berikut:
1.      Tritunggal adalah Allah yang satu. Pribadi ini tidak membagi-bagi ke-Allahan seolah masing-masing menjadi sepertiga, namun mereka adalah ‘sepenuhnya dan seluruhnya’. Bapa adalah yang sama seperti Putera, Putera yang sama seperti Bapa; dan Bapa dan Putera adalah yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah dengan kodrat yang sama. Karena kesatuan ini, maka Bapa seluruhnya ada di dalam Putera, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Putera seluruhnya ada di dalam Bapa, dan seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Roh Kudus ada seluruhnya di dalam Bapa, dan seluruhnya di dalam Putera.
2.      Ketiga Pribadi ini berbeda secara real satu sama lain, yaitu di dalam hal hubungan asalnya: yaitu Allah Bapa yang ‘melahirkan’, Allah Putera yang dilahirkan, Roh Kudus yang dihembuskan.
3.      Ketiga Pribadi ini berhubungan satu dengan yang lainnya. Perbedaan dalam hal asal tersebut tidak membagi kesatuan ilahi, namun malah menunjukkan hubungan timbal balik antar Pribadi Allah tersebut. Bapa dihubungkan dengan Putera, Putera dengan Bapa, dan Roh Kudus dihubungkan dengan keduanya. Hakekat mereka adalah satu, yaitu Allah.
Trinitas merupakan akar dan dasar dari iman kekatolikan yang bertumbuh selama ribuan tahun dan terpelihara hingga kini. Dalam sejarah gereja beberapa kali konsep ini ditegaskan untuk menghindari penyimpangan dan penyesatan yang dapat terjadi dalam perjalanan waktu. Banyak kali memang dalam persfektif awam kita sulit menangkap maksudnya. Hal ini pertama-tama juga disebabkan oleh rendahnya minat dalam mendalami dan memahami kehidupan iman kekatolikan.
Trinitas menekankan Allah yang esa dalam 3 pribadi. Mengapa disebut demikian, sebab Allah itu tunggal, utuh, dan sempurna. Tak dapat diandaikan sebagai bilangan satu sebagaimana bilangan matematis, melainkan ditekankan pada Allah yang sempurna. Kesempurnaan itu memiliki wujud yang tidak dapat begitu saja dinalar sebab Allah tentu saja terlalu sederhana untuk dinalar. Disinilah peran misteri keallahan yang mewujud dalam iman menjadi penting artinya.
Konsep Trinitas itu merupakan ajaran yang menyatakan Allah kita Satu dan terdiri dari 3 pribadi. Pribadi yang dimaksud adalah Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus. Perlu dipahami dengan baik bahwa ini bukan pernyataan bahwa Allah itu tiga melainkan satu dalam 3 pribadi yang unik. Satu sama lain tidak dapat dipisahkan sebab satu sama lain membangun kesempurnaan Allah yang Esa.
Sebagai sebuah pemahaman, hakekat kita sebagai manusia adalah sama untuk semua umat manusia. Namun demikian kita sebagai manusia memiliki kepribadian yang membedakan kita dengan yang lain. Fakta bahwa kepribadian yang unik dan berbeda diantara manusia tak dapat mengabaikan bahwa kita seluruhnya adalah satu hakekat, manusia. Begitupula hakekat bahwa Allah itu satu dan dilihat dalam 3 pribadi untuk membantu kita melihat karya keselamatan Allah yang mewujud lewat Penebusan Kristus Yesus dan pemeliharaan Roh Kudus sehingga karya itu dapat terus berlanjut sampai akhir zaman. Hakekat Tuhan yang satu tidak mengabaikan bahwa ada 3 pribadi yang saling terkait membentuk konsep keallahan kita.
Kesatuan Allah dalam 3 pribadi ini dalam Kitab Suci diungkapkan oleh Yesus sendiri. Ia mengungkapkan “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30); “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa…” (Yoh 14:9) Di dalam doa-Nya yang terakhir untuk murid-murid-Nya sebelum sengsara-Nya, Dia berdoa kepada Bapa, agar semua murid-Nya menjadi satu, sama seperti Bapa di dalam Dia dan Dia di dalam  Bapa (lih. Yoh 17: 21). Pada bagian ini pernyataan keallahan Yesus ditegaskan oleh-Nya sendiri. Hal ini sejalan dengan sebutan Anak yang terkasih oleh Allah Bapa saat Yesus menjalani pembabtisan di sungai Yordan.
Bersama dengan Roh Kudus kesatuan itu juga dibangun dalam relasinya dengan Allah Bapa. Kristus menjanjikan Roh Kebenaran pada para murid sebagai Roh Kudus dan juga merupakan Roh Kristus itu sendiri. (Yoh 15:26). Kesatuan ini semakin ditegaskan diakhir hidupnya sebagai manusia sebelum Ia diangkat ke Surga. Pesan yang berbunyi “…Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus…”(Mat 28:18-20) menunjukkan bagaimana kita diajak menjadi bagian dalam keutuhan Allah lewat 3 pribadi yang dimaksud.

  1. Tantangan Iman
Kita tentu tidak dapat melihat iman dari segi nalar belaka kendati iman juga tak dapat berdiri sendiri tanpa kemampuan kita menalar. Artinya bahwa iman yang mengandung misteri dan perlu dihidupi selama kita masih menjalani hidup akan terus berkembang seturut perkembangan hidup rohani kita. Maka dalam perjalanan hidup ini kita perlu menjaga agar iman kita tidak goyah. Akan banyak tudingan yang didasari pada nalar dan hendak mengabaikan misteri iman. Tudingan bahwa ajaran iman telah diselewengkan dan sebagainya. Namun kita tetap harus memegang keyakinan bahwa iman dan aspek misterinya tidak dapat begitu saja dijelaskan dengan nalar. Dalam hal ini rahmat Allah satu-satunya yang sempurna itulah yang akan membantu kita mengenalnya lebih dekat.
Sebab kesempurnaan itu hanya milik Allah, maka sangatlah tidak beralasan bahwa dengan nalar manusiawi kita hendak menjelaskan dengan sempurna hakikat Allah. Disinilah perlu dipahami keterbatasan manusiawi kita dan melalui misteri iman, pada akhirnya kita mengandalkan hidup pada rahmat Allah yang menuntun kita. Merasionalkan iman pada akhirnya membuat iman itu bukan lagi sebuah keyakinan akan Allah melainkan pengetahuan belaka.

  1. Daftar Referensi
Bakker A, Ajaran Iman Katolik 2 untuk Mahasiswa, Penerbit Kanisius,1988, Yogyakarta
            Hardjana AM, Penghayatan Agama, Penerbit Kanisius, 2002, Yogyakarta
           Ismartono I, Kuliah Agama Katolik di PT, Penerbit Obor, 1993, Jakarta

1 komentar:

  1. Dalam gambar TRINITAS perlu ada "mata [arah] panah" sehingga terbaca: BAPA ALLAH itu bukan PUTERA ALLAH bukan ROH KUDUS [ditunjunkkan dengan arah panah dari BAPA --> PUTERA --> ROH KUDUS] ; namun sekaligus PUTERA adalah ALLAH, BAPA adalah ALLAH dan ROH KUDUS adalah ALLLAH.[ditunjukkan dengan arah panah dr ALLAH (di central gambar) --> PUTERA, ALLAH --> BAPA, ALLAH --> ROH KUDUS. Salam dari LUMIRE WORLD di www.lumireworld.com & SUHUTNIHUTA WORLD di www.suhutnihuta-thegreat.com

    BalasHapus