Sabtu, 05 Januari 2013

Agama, Ruang Lingkup, dan Panggilan Iman Katolik


Thomas Robiana Sembiring
Bahan Kuliah Agama Katolik PSIK UGM


A.    Pengantar
Agama sebagai gejala yang universal dalam kehidupan merupakan bagian dari hidup banyak umat manusia dari berbagai latar belakang, iklim maupun kebudayaan. Hampir secara keseluruhan umat manusia memiliki identitas agama kendati akhir-akhir ini di belahan bumi Eropa misalnya, agama banyak ditinggalkan oleh berbagai kalangan.
Agama sebagai sebuah identitas pada intinya memuat sebuah kepercayaan, keyakinan dan berpegang pada satu realitas tertinggi atau zat yang paling tinggi. Realitas ini dipahami dengan berbagai sebutan dalam berbagai latar belakang budaya dan lingkungan berbeda. Namun pada intinya sekali lagi ia berkaitan dengan sebuah pengakuan akan yang Maha Tinggi yang kerap kita sebut dengan Allah, Tuhan, God, Deus, dll.
B.     Struktur Agama
Secara struktur dalam perspektif sistem, terdapat empat segi pokok dalam agama. Hal ini menyangkut keseluruhan hidup manusia (eksistensial), segi yang menyangkut pemahaman (intelektual), segi yang menyangkut kelembagaan (institusional) dan segi yang menyangkut perilaku (etikal). Dalam hal ini
masing-masing membentuk kesatuan nilai yang bertujuan mendorong nilai dan ajaran menyatu dalam tindakan personal maupun komunal penganutnya.
Segi eksistensial menjelma dalam iman dan kepercayaan. Oleh iman, Tuhan diterima sebagai satu-satunya realita tertinggi. Iman menyangkut dan membawa dampak pada keseluruhan diri manusia. Dengan kata lain agama sebagai sebuah struktur penopang kelangsungan iman berkaitan dengan ruang lingkup kemanusiaan.
Segi intelektual menyentuh pengertian mengenai Tuhan. Dengan penerimaan atas iman maka diyakini pula peranan Tuhan dalam kehidupan manusia. Melalui pemahaman Tuhan dan hakikat serta sifat-sifatnya mulai dirumuskan dalam bentuk pernyataan-pernyataan, ungkapan, dan kata yang mudah dipahami. Aspek ini mengandalkan nalar untuk mendekatkan manusia pada pemahaman akan Tuhan.
Segi institusional berkaitan dengan kelembagaan dan pengorganisiran agama. Melalui pelembagaan keyakinan serta pemahaman tentang Tuhan dapat terpelihara dan terjaga secara lebih baik. Ia dapat dikembangkan dengan lebih baik dari angkatan ke angkatan berikut. Pengorganisiran ini membantu pelaksanaan hidup keagamaan entah dalam kelompok alamiah seperti keluarga, suku, kampung, dsb ataupun dalam kelompok yang sengaja dirancang seperti paguyuban, yayasan, dan organisasi keagamaan lainnya.
Segi etikal mengungkapkan iman kepercayaan pada Tuhan dalam perilaku. Sifat rohani yang bersatu dalam jasmani manusia membuat iman tak hanya terpusat pada aspek batiniah melainkan juga pada perilaku lahiriah. Hakikat iman dan perbuatan menyatu menjadi satu aspek etika yang tampak. Hal ini biasanya dimunculkan melalui aturan-aturan berperilaku atau bertindak lewat pedoman-pedoman keagamaan yang dimunculkan. Dalam agama katolik misalnya aturan gereja dan sebagainya.
Melalui pemahaman ini kita dapat menyimpulkan bahwa agama yang merupakan perwujudan hubungan manusia dengan Tuhan dapat dilihat dari aspek objektif dan subjektif. Artinya secara objektif Agama berporos pada Tuhan sementara subjektif agama menjelma melalui sikap, pemahaman serta penghayatan hubungan kita dengan Dia. Beberapa segi yang disebutkan diatas membantu kita melihat ruang lingkup agama secara normatif pada umumnya.
C.    Agama Katolik dan Lingkungannya
Gereja Katolik yang sekian abad berdiri dan berkembang dengan kontektualisasi zaman menyandarkan diri pada nilai keagamaan serta ajaran iman yang dibawa. Perkembangan gereja membutuhkan kemampuan untuk melihat kehendak Allah yang muncul dalam dinamika kehidupan dan semua dilandaskan pada wahyu yang terekam lewat kitab suci serta tradisi gereja yang terbangun sekian ribu tahun. Artinya agama Katolik sebagaimana dipahami melalui struktur dan segi eksistensial berkaitan pula dengan seluruh aspek kehidupan manusia.
Sebagai agama yang dinamis atau agama yang mampu melakukan rekontektualisasi zaman dengan nilai dan ajaran Kristus, kekatolikan memposisikan diri sebagai agama yang mengubah masyarakat. Hal yang diusahakan dalam konteks ini adalah mengubah hati manusia, pandangan hidup dan prinsip-prinsip yang mendasari perilaku mereka. Melalui berbagai forum baik itu di tingkatan lokal, regional, nasional bahkan internasional Gereja Katolik senantiasa melakukan refleksi dan mengamati secara seksama perkembangan dunia.
Agama Katolik yang melandaskan diri pada panggilan Kristus untuk mewartakan keselamatan dunia melalui ajaran-ajarannya diterjemahkan menurut konteks zamannya. Untuk itulah maka dewasa ini sebagai sebuah kelembagaan yang menjaga agama dan iman kekatolikan, Gereja membentuk berbagai dewan pastoral yang bertugas untuk menerjemahkan injil kedalam berbagai karya kerasulan di pelbagai bidang kehidupan manusia. Bidang budaya, kesehatan, pendidikan, sosial ekonomi hingga politik. Pada dasarnya semua ditujukan agar menjaga aspek kehidupan ini dari demoralisasi dan dehumanisasi yang tak selaras dengan ajaran iman katolik.
Kesadaran akan perkembangan lingkungan hidup manusia ini pula yang mendasari gereja katolik sebagai lembaga yang memelihara iman kita senantiasa proaktif melihat dirinya. Masa seabad yang lalu gereja mengeluarkan ensiklik yang merupakan bagian dari Ajaran Sosial Gereja (ASG) sebagai sebuah bentuk releksi kritis atas kondisi masyarakat dan ini dijadikan sebagai pedoman dalam hidup kemanusiaan kita. Berbagai dokumen yang berkaitan tentang kesehatan, pendidikan, keluarga, budaya, perburuhan dan lain-lain semakin ditajamkan untuk menjadi pedoman hidup umat katolik bahkan umat manusia pada umumnya. Ini adalah sebuah buah pemikiran transformatif gereja pada zamannya.
Dalam konteks nasional misalnya, gereja tahun ini menekankan ekopastoral atau kerasulan dan pewartaan injil dalam karya yang berbasis pada pemeliharaan lingkungan dan ciptaan. Ini adalah sebuah refleksi kritis gereja Katolik Indonesia dalam melihat reallitas masyarakat Indonesia dan persoalannya. Melalui pesan ekopastoral, umat diajak untuk melihat kehendak Allah yang menciptakan dunia dengan segala kebaikannya agar tetap memegang teguh kebaikan itu dalam seluruh aspek hidupnya. Artinya seluruh ciptaan yang baik haruslah dikelola dengan baik dan demi kebaikan seluruh umat manusia.
D.    Panggilan Iman dan Sikap Takwa
Agama Katolik sebagaimana ia hidup melalui pelembagaan Gereja Katolik melakukan karya-karya pastoralnya dalam menjaga kawanan umat yang besar jumlahnya. Umat katolik pun tersebar dalam berbagai ruang kebudayaan, Negara dan profesi yang beragam. Kesatuan gereja yang terorganisir rapi di seluruh dunia ini menekankan pula kesatuan gerak iman kita ditengah dinamika zaman. Kesatuan gerak ini berpijak pada satu dasar yang sama yakni ajaran Kristus dalam setiap pilihan karya masing-masing kita maupun lembaga kita.
Keyakinan kita akan iman terhadap Kristus dan juga gereja Katolik sebagaimana kita ungkapkan dalam Syahadat iman kita tentunya membutuhkan keselarasan dalam perilaku. Ini adalah bentuk ketakwaan kita dalam menerjemahkan iman dalam perbuatan. Semua sekali lagi tidak mengabaikan keunikan dan pilihan karya kita. Sebagai sebuah contoh, karya kesehatan bagi anda para perawat pada akhirnya memanggil anda untuk membawa nilai kekatolikan dalam perilaku kerja anda. Ini adalah sebuah tindakan implementatif atas nilai kekatolikan dalam pilihan moral maupun pengambilan keputusan anda dalam pekerjaan kelak.
Kemampuan kita memahami dan mengimplementasikan ajaran iman bergantung pada seberapa jauh kita mengetahui dan berniat mengembangkan iman kita. Pengetahuan ini berkaitan dengan kemampuan kita berkembang lebih mencari tahu ajaran-ajaran iman atau ajaran gereja yang berkaitan dengan karya kita kelak. Maka dalam kehidupan masyarakat modern saat ini, perlu bagi kita mengembangkan sisi intelektualitas kita selaras dengan perkembangan religiusitas. Seluruh tindakan kita sebagai bentuk ketakwaan akan Allah pertama-tama lahir dari pengetahuan kita akan kehendak Allah. Kehendak Allah melalui pewahyuan di Kitab Suci menjadi salah satu pedoman selain tradisi-tradisi gereja yang ada. Maka mengembangkan sikap kekatolikan yang dilandasi pada ajaran cinta kasih Kristus lewat perilaku hidup di masyarakat ataupun dalam ruang profesi anda menuntun kita pada sikap magis atau lebih. Sikap berani berkembang lebih memahami iman dan bertindak seturut ajaran kekatolikan.

E.     Referensi
Andang Al, Agama yang Berpijak, Penerbit Kanisius, 2005, Yogyakarta
Hardjana AM, Penghayatan Agama, Penerbit Kanisius, 2002, Yogyakarta
Ismartono I, Kuliah Agama Katolik di PT, Penerbit Obor, 1993, Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar